Hendri Satrio: Indonesia Memiliki Media Massa Paling Banyak di Dunia

  • Whatsapp
Founder Lembaga Survei KedaiKOPI Hendri Satrio di acara Diskusi bersama Jurnalisme Sumatera Selatan dengan tema Dinamika Industri Hulu Migas & Media Massa di Era Digital yang diselenggarakan Medco E&P di Hotel The Alts Palembang, Kamis (27/2/2020).

lahatpos.co, Palembang – Founder Lembaga Survei KedaiKOPI Hendri Satrio mengatakan Indonesia memiliki media massa paling banyak di dunia.

Menurut Hendri, saat ini Indonesia memiliki 47.000 media massa. 47.000 media massa terdiri dari media cetak, radio, televisi dan media online.

Read More

“Dari jumlah itu 2.000 adalah media cetak, 674 radio, 523 televisi ttermasuk lokal, dan lebihnya
media daring,” ujarnya menyoroti Ambivalensi Jurnalisme Digital di Indonesia di acara Diskusi bersama Jurnalisme Sumatera Selatan dengan tema Dinamika Industri Hulu Migas & Media Massa di Era Digital yang diselenggarakan Medco E&P di Hotel The Alts Palembang, Kamis (27/2/2020).

Menurutnya, digitalisasi teknologi dan peralihan dari media berbasis cetak ke internet dan digital menciptakan bentuk-bentuk baru. Hal ini memberikan implikasi logis tentang harapan baru jurnalisme ke depannya.

Hendri berharap media massa betul betul menjadi pilar keempat NKRI. Terkadang media massa tidak menyajikan berita menyeluruh, hanya sepotong sepotong. Sehingga pembaca cenderung memilih media bacaan yang disukai. Mau baca apa, saluran apa,

“Berita politik masih disukai, berita olahraga disukai. Yang tidak suka berpolitik, mungkin berita politiknya yang tidak disukai,” ujar pendukung Liverpool itu.

Lanjutnya, setidaknya terdapat 44.000 media daring di Indonesia yang sebagian besar tidak dikelola secara profesional.

Implikasi negatif tumbuhnya media online adalah Speed vs Accuracy. Problem etika: siapa pemilik informasi? Meledaknya jumlah media (sulit dibedakan antara yang otoritatif atau tidak. Bertambahnya wartawan-wartawan tanpa media. Media berada di bawah kendali raksasa informasi google. Oligarki kepemilikan media menancap semakin kuat.

Namun disisi lain implikasi tumbuhnya media online yakni meningkatnya akselerasi kecepatan produksi, distribusi dan konsumsi media. Hilangnya barrier to entry: watch dog oleh siapa saja, dan terbukanya ruang percakapan (virtual publik sphere).

Meningkatnya akselerasi kecepatan produksi, distribusi dan konsumsi media. Publik mendapatkan informasi terkini dan cepat. Media online seringkali melampaui kecepatan media dengan platform lain.

Untuk menyebarkan informasi, masyarakat hanya tinggal membagikan tautan/link dari media online yang ada EWS. Apabila di masa lalu, konsumsi media cenderung lambat karena keterbatasan akses. Saat ini, media online dapat diakses selama ada ponsel di kantung.

Hilangnya Barrier to Entry. Siapa saja bisa menjadi WatchDog. Siapa saja bisa membuat media online untuk mewakili suara dirinya, komunitasnya, kelompoknya, kampusnya dengan berbagai platform dan bentuk untuk menyuarakan diri maupun mengritik pemerintah. Semua pihak bisa menjadi watchdog dan dapat didengar oleh khalayak.

Bahkan citizen journalism maupun media alternatif dapat menjadi watchdog dari media arus utama

“Semua pihak bisa menjadi watchdog dan dapat didengar oleh khalayak,” ujarnya. (dn)

Related posts