Mantan Kades Muara Cawang Bantah Tuduhan dari Jurai Tue Desa Muara Cawang

  • Whatsapp

LAHAT – Lagi lagi mantan Kepala Desa Muara Cawang Kecamatan Pseksu Rapisun meluruskan soal pemberitaan yang beredar terhadap dirinya.

Pertama, berdasarkan hasil temuan audit tahun 2018 dari Inspektorat Kabupaten Lahat, bahwa pengelolaan BUMDes Muara Cawang tidak efektif. Seperti tidak ada laporan keuangan dari pengelola BUMDes, tidak ada bagi hasil dengan desa, bahkan banyak dipakai pribadi, tidak nota pembelian, tidak ada nota penjualan, dan bukti bukti penggunaan dana tidak ada. Intinya, SPJ (Surat Pertanggung Jawaban) dari Pengelola BUMDes tidak ada laporan kepada Kepala Desa dan Inspektorat.

Bacaan Lainnya

“Inilah alasan dana BUMDes dikembalikan ke rekening desa sebesar 50 Juta, dan ada bukti setor di buku tabungan,” ujarnya, Selasa (16/6/2020).

Uang tersebut ditarik Kepala Desa dari Ketua BUMDes tanggal 20 Juni 2019, tanggal 19 Juli 2019 uang itu disetorkan ke rekening desa. Pada 30 Juli 2019, uang BUMDes tersebut menjadi SILPA Dana Desa dan dianggarkan kembali pada APBDes Perubahan tahun 2019 untuk pembangunan desa.

Jadi uang tersebut bukan lagi uang BUMDes tapi sudah jadi uang SILPA.
Pada bulan Desember 2019, uang tersebut ditarik kembali dan dipergunakan untuk pembangunan desa (RAB dan SPJ terlampir).

“Itulah penjelasan alur duit 50 juta itu. Bukti buktinya lengkap. Untuk lebih jelasnya lihat di pertanggung jawaban Kepala Desa,” tegasnya.

Penjelasan ini untuk menjawab orang yang mengatasnamakan jurai tue Desa Muara Cawang yang menuduh dirinya menggelapkan uang BUMDes.

Kedua, tidak pernah ada pertemuan warga membahas tentang melaporkan dirinya kepada pihak berwajib sesuai dengan daftar hadir yang ditampilkan oleh salah satu media. Yang benar, bahwa daftar hadir itu adalah daftar hadir musyawarah desa (musds) membahas tentang Perdes, Aset, BUMDes, bantuan BLT DD, dan PJS Kades (Surat Undangan terlampir.

“Di daftar hadir itu ada tanda tangan saya bernama Icon, ibu kandung mantan kades Sahrum, dan beberapa keluarga. Jadi sangat tidak mungkin seorang ibu melaporkan anaknya sendiri,” ucapnya.

Ketiga, tentang sumur bor yang katanya dianggap tidak bermanfaat. Rapisun meluruskan, pembuatan sumur bor itu sudah sesuai aturan. Sudah serah terima dan dihadiri Tripika Kecamatan (Polsek, Koramil, Camat), pendamping desa, pendamping kecamatan, dan semua pihak pihak terkait.

Masalah yang ada di sumur bor itu adalah di sumur itu ada meteran listrik. Nah meteran itu harus diisi pulsa listrik supaya listriknya hidup dan bisa menyedot air.

Selama ini, awal awal sebelum peresmian/serah terima, pulsa listrik sumur bor diisi oleh Kades. Setelah peresmian, Kades tidak lagi mengisi pulsa listrik sumur bor lagi, karena sudah diserahkan kepada masyarakat masing masing atau Kadus untuk mengelola dan memanfaatkan sumur bor tersebut.

Jika tidak ada air setelah serah terima, alasannya karena air tidak disedot, karena pulsa listrik tidak diisi. Sehingga menyebabkan mesin jet pump tertutup/mati.

“Tapi kalau rutin isi pulsa listrik, air rutin disedot, maka airnya lancar,” ujarnya.

Jadi, Rapisun menegaskan, semua yang ia sampaikan ini, sangat jelas dan mempunyai bukti yang lengkap.

Rapisun mengimbau kepada masyarakat Desa Muara Cawang untuk tenang, jangan mudah terprovokasi, jangan mudah terpengaruh, dan jangan mudah tanda tangan. Hati hati dalam memberikan tanda tangan, karena dikhawatirkan akan ditipukan orang. Atau disalahgunakan orang,” himbaunya.(dn)

Lampiran bukti-bukti :

Pos terkait