oleh

Akibat Pembukaan Tanah Kapling, Sumber Air Pemandian Umum Menjadi Keruh di Kota Baru

LAHATPOS.CO, Lahat – Warga RT 5 Kelurahan Kota Baru, mengeluhkan air, tempat pemandian umum masyarakat setempat, yang keruh. Hal ini disebabkan oleh adanya aktivitas alat berat yang meratakan tanah untuk dijadikan tanah kapling.

Menurut Cik Awi, warga RT 5, sudah beberapa hari ini, warga mengeluhkan warna air di tempat pemandian umum itu menjadi keruh. Warga yang mengeluhkan sebagian besar ibu ibu, karena mereka lebih banyak menderita. Setiap hari mencuci piring, baju, dan sebagainya dengan memanfaatkan air bersih di tempat pemandian umum tersebut.

“Karena airnya menjadi keruh, ibu ibu pada marah. Mereka minta bapak bapak mencarikan solusinya,” ucapnya, Jumat (8/3/2019).

Warga RT 5 Kelurahan Kota Baru gotong royong membersihkan lumpur di tempat pemandingan umum.

Begitu juga disampaikan Ketua RT 05 Kelurahan Kota Baru, Hayanul Fiktri, setelah ditelusuri, ternyata penyebab air pemandian umum keruh, karena adanya aktivitas alat berat di pangkal aliran air ini. Alat berat tersebut meratakan tanah. Dirinya sendiri tidak mengetahui, mau dibuat apa perataan tanah tersebut. Informasi yang beredar di masyarakat, pemilik tanah ingin membuat perumahan.

“Tidak ada laporan sampai kepada saya. Sehingga saya tidak bisa menjelaskan kepada masyarakat, akvitas apa yang dilakukan pekerja di lahan itu,” ucapnya.

Hayanul sendiri telah mencoba mengingatkan kepada pekerja, berhati hati meratakan tanah, karena di bawahnya terdapat aliran air yang melintasi tempat pemandian warga Kota Baru.

“Apa yang sudah saya sampaikan kepada pekerja itu, ternyata terjadi. Air di tempat pemandian menjadi keruh. Bukan hanya keruh, tanah lumpur ikut mengalir, menumpuk di lokasi tempat pemandian, dan menutup sebagian keran aliran air,” jelasnya.

Melihat kondisi demikian, warga sudah tiga gotong royong membersihkan lumpur tersebut. Begitu setelah dibersihkan, tanah lumpur datang lagi akibat aktivitas alat berat di tanah yang terletak di pangkal aliran air.

Anggota DPRD Lahat Bambang Supriadi SIP dan Lurah Kota Baru menengahi permasalahan warga terhadap masalah tempat pemandian umum keruh.

Melihat kondisi ini, warga Kota Baru sempat emosi. Namun berhasil diredam sesama warga. Akhirnya keluhan ini disampaikan kepada anggota DPRD Lahat Bambang Supriadi SIP.

Bambang yang memang warga asli Kota Baru, langsung mengumpulkan warga. Ia ingin mendengarkan langsung permintaan warga terhadap kejadian ini. Warga minta, aktivitas alat berat di lahan tersebut dihentikan dulu. Sebab kalau masih beroperasi, maka dikhawatirkan tanah sisa aktivitas alat berat mengalir ke aliran air, sehingga menutupi aliran air ke tempat pemandian.

“Supaya tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan, saya mendampingi beberapa tokoh masyarakat Kota Baru melakukan musyawarah bersama di kantor Pak Lurah. Di sana juga hari pihak pengelola lahan tersebut,” ucapnya.

Ketua RT 05 Kota Baru bersama warga dan pengelola tanah kapling hadir duduk bersama.

Dari hasil pertemuan itu, ternyata diketahui, lahan tersebut akan dijadikan tanah kapling, bukan untuk membuat perumahan seperti yang santer ditelinga masyarakat. Kemudian, pihak pengelola tanah kapling juga sudah mengakui, dan menyampaikan permintaan maaf atas kejadian itu.

“Mereka berjanji akan memperbaiki aliran air yang terkena lumpur. Kemudian akan mengerahkan pekerja untuk membersihkan lumpur disepanjang aliran air menuju tempat pemandian umum,” lanjutnya.

Pada kesempatan itu, Bambang mengatakan, pertemuan di kantor lurah, belum menyelesaikan kata sepakat. Akan tetapi sekedar mendengarkan penjelasan dari pengelola tanah kapling saja. Karena, untuk menyelesaikan masalah ini, perlu mendengarkan saran dan masukan dari tokoh masyarakat, tokoh adat, dan warga yang lain. Sehingga apabila semua elemen sudah berkumpul, dan menghasilkan kesepakatan, maka itulah yang akan dilakukan.

“Selesai pertemuan di kantor lurah ini, warga akan bermusyawarah terlebih dahulu, terkait usulan jalan keluar yang ditawarkan oleh pengelola tanah kapling. Jadi pertemuan itu belum ada kesepakatan,” tegasnya.

Lebih jauh Bambang menjelaskan, tempat pemandian umum ini, sumber kehidupan bagi warga Kota Baru. Di sanalah tempat mencuci pakaian, mencuci piring, mandi, dan sebagainya. Apalagi kalau musim kemarau, hampir 80 persen warga Kota Baru mengambil air di sana.

“Memang di sini ada air PDAM, tetapi tetap belum bisa diandalkan. Di sini sulit air sumur. Tanahnya napal semua. Jadi warga bergantung dengan air tempat pemandian umum tersebut,” pungkasnya. (dn)

Komentar

News Feed