oleh

RUPST Tahun Buku 2018, PT Bukit Asam Bagikan Dividen Rp 3,76 Triliun

-Nasional-27 views

LAHATPOS.CO, Jakarta – PT Bukit Asam Tbk (PT BA) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk tahun buku 2018 di Grand Ballroom Hotel Borobudur Jakarta Jl Lapangan Banteng Selatan Nomor 1 Jakarta Pusat, pukul 10.35 WIB, Kamis (25/04/2019).

Hadir Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk Arviyan Arifin, Direktur Keuangan Mega Satria, Direktur SDM dan Umum Joko Pramono, Direktur Pengembangan Usaha Fuad Iz Fachroeddin, Direktur Niaga Adib Ubaidillah, Direktur Operasi dan Produksi Suryo Eko Hadianto, dan Sekretaris Perusahaan Suherman.

Kemudian Gubernur Sumsel H Herman Deru SH, Bupati Lahat Cik Ujang SH, Ketua DPRD Lahat Samarudin SH, dan sejumlah tamu internal holding industri pertambangan.

Arviyan Arifin menjelaskan, pada RUSPT Tahun Buku 2018, Perseroan membagikan dividen sebesar Rp 3,76 Triliun. Jumlah dividen tunai yang dibagikan merupakan 75 persen dari total laba bersih perusahaan tahun 2018 sebesar Rp 5,02 Triliun.

Selain itu, dari hasil RUPST terdapat perubahan nomenklatur jabatan dalam Perseroan dimana perubahan nomenklatur ini dilakukan dalam rangka penyelarasan dan efektivitas koordinasi di internal holding industri pertambangan. Pertambangan nomenklatur jabatan yang ada yaitu perubahan nama jabatan Direktur Operasi Produks menjadi Direktur Operasi dan Produksi serta Direktur SDM dan Umum menjadi Direktur Sumber Daya Manusia.

“Selain perubahan pengurus perseroan dan pembagian dividen, melalui RSUPT Tahun Buku 2018 juga disetujui mengenai Laporan Tahunan Direksi mengenai keadaan dan jalannnya Perseroan selama Tahun Buku 2018; Laporan Tahunan termasuk Laporan Keuangan Program Kemitraan Perseroan Tahun Buku 2018; Penetapan Tantiem untuk Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan Tahun Buku 2018 dan Gaji/Honorarium; serta Penunjukkan Kantor Akuntan Publik untuk mengaudit Laporan Keuangan Perseroan dan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Tahun Buku 2019,” jelasnya.

Kinerja dan Pencapaian 2018

Sepanjang tahun 2018, kinerja Bukit Asam mengalami kenaikan dan perkembangan yang baik. Hal ini terlihat dari pencapaian laba bersih Bukit Asam yang menembus angka Rp 5,02 Triliun, atau naik 12 persen dari laba bersih tahun 2017 yang sebesar Rp 4,48 Triliun. Pencapaian ini merupakan laba bersih tertinggi yang berhasil diraih Perseroan sejak beroperasi. Kenaikan pendapatan usaha, penjualan ekspor serta efisiensi berkelanjutan yang dilakukan Perseroan menjadi faktor utama dari perseroan laba bersih sepanjang 2018.

Sementara itu, pada 2018 ini Perseroan mencatatkan kenaikan pendapatan usaha sebesar 9 persen menjadi Rp 21,17 Triliun yang terdiri dari penjualan batu bara domestik sebesar 49 persen, penjualan batu bara ekspor sebesar 48 persen dan aktivitas usaha lain seperti penjualan listrik, briket, minyak sawit mentah, jasa kesehatan rumah sakit dan jasa sewa sebesar 3 persen. Kenaikan pendapatan usaha ini ditopang oleh peningkatan pendapatan penjualan batu bara ekspor yang signifikan sebesar Rp 2,44 Triliun.

“Volume penjualan batu bara pada 2018 mencapai 24,69 juta ton atau mengalami kenaikan 4 persen dari tahun 2017. Pencapaian volume penjualan ini memiliki komposisi 56 persen untuk pasar domestik dan 44 persen untuk pasar ekspor. Kenaikan volume penjualan ini didukung dengan kenaikan volume produksi batu bara sepanjang 2018,” lanjut Arviyan Arifin.

Sepanjang 2018, Perseroan berhasil meraih 42 penghargaan dan Pemerintah dan berbagai lembaga dalam dan luar negeri. Di akhir 2018, Perseroan kembali meraih penghargaan Proper Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

“Kinerja saham Perseroan sepanjang 2018 semakin baik. Pada pembukuan perdagangan tahun 2018 pada 2 Januari 2018 tercatat saham PTBA sebesar Rp 2.500 per lembar saham dan pada penutupan perdagangan tanggal 31 Desember 2018, harga saham PTBA tercatat Rp 4.300,” ucapnya.

Target 2019

Pada tahun 2019, Perseroan menargetkan penjualan batu bara menjadi sebesar 28,38 juta ton, yang terdiri dari 13,67 juta ton penjualan domestik dan 14,71 juta ton penjualan ekspor. Target penjualan 2019 ini meningkat 15 persen dari realisasi penjualan batu bara pada 2018. Peningkatan target penjualan ini ditopang oleh rencana penjualan ekspor untuk batu bara medium of high calorie ke premium market sebesar 3,8 juta ton.

Untuk mendukung target penjualan, Perseroan juga menargetkan produksi batu bara sebesar 27,26 juta ton atau naik 3 persen dari realisasi produksi tahun 2018 sebesar 26,36 juta ton. Angkutan batu bara dengan kereta api juga mengalami kenaikan target menjadi 28,38 juta ton dengan komposisi Tanjung Enim menuju Tarahan sebesar 21 juta ton ke Dermaga Kertapati Palembang. Jumlah angkutan batubara ini telah meningkat 13 persen dari target tahun 2017 sebesar 20,50 juta ton.

Sejalan dengan tagline beyond coal, Perseroan bersama dengan Pertamina dan Air Product telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman untuk gasifikasi batubara menjadi dimethyl ether (DME) dan synthetic natural gas (SNG) di Allentown Amerika Serikat pada November 2018. Penandatanganan ini disaksikan oleh Menteri BUMN Rini M Soemarno dan Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin.

Selain itu, Perseroan bersama dengan Pertamina, Pupuk Indonesia dan Chandra Asri Petrochemical juga telah melakukan pencanangan Industri Hilirisasi Batu Bara di Bukit Asam Coal Based Special Econimic Zone (BACBSEZ) di Tanjung Enim.

“Melalui hilirisasi ini, batu bara kalori menjadi syngas untuk produksi urea dengan kapasitas 570 ribu ton per tahun, Dimethyl Ether (DME) dengan kapasitas 400 ribu ton, dan polypropelene dengan kapasitas 450 ribu ton per tahun. Proyek ini direncanakan Commercial Operation Date (COD) pada akhir 2022, dan direncanakan konsumsi batu bara untuk proyek ini menjadi 6,2 juta ton per tahun,” ujarnya.

Sinergi dengan BUMN lain

Untuk optimasi pengangkutan batu bara, Perseroan bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengembangkan proyek angkutan batu bara jalur kereta api dengan kapasitas 60 juta ton per tahun pada 2023.

“Pengembangan ini termasuk jalur batu yang terdiri dari Tanjung Enim-Prajin dan Tanjung Enim-Tarahan 2,” ucapnya.

Tanjung Enim-Prajin memiliki kapasitas 10 juta ton per tahun, sedangkan Tanjung Enim-Tarahan 2 memiliki kapasitas 20 juta ton per tahun. Kedua jalur ini, direncanakan akan mulai beroperasi pada 2023.

Lahat Pos mewawancarai Bupati Lahat Cik Ujang terkait kehadirannya di RUPST PT Bukit Asam Tbk

Terpisah, Bupati Lahat Cik Ujang SH menjelaskan kehadiran di RUPST PT Bukit Asam Tbk hanya sebagai tamu undangan. Karena Lahat tidak memiliki saham di PT Bukit Asam Tbk.

“Dizaman Bupati terdahulu, kita (Lahat) ada saham di PT BA, tapi sekarang tidak ada. Saya tidak tau mengapa tidak ada lagi. Tadinya saya ingin berbicara, namun rupanya hanya pemilik saham yang berbicara. Kita tamu undangan saja,” ujarnya.

Meski demikian, Cik Ujang menyampaikan apresiasinya terhadap keberadaan PT Bukit Asam Tbk. Perusahaan ini sangat membantu pembangunan di Kabupaten Lahat. Dimulai dari pemberdayaan tenaga kerja, program CSR, bina lingkungan, maupun dukungan terhadap program sekolah dan berobat gratis. (dn)

Komentar

News Feed